Keputusanku untuk mencoba berani pada perbincangan yang lebih mengerucut tak lain karena kurasakan adanya sinyal. Respon positif yang dilayangkan dalam setiap kata - kata dalam obrolan denganmu membuat hati cukup berbunga. Sedikit meyakinkan akan sebuah peluang untuk langkah yang lebih dari sekedar langkahku menjalani pagi. Kuputuskan untuk sedikit mengungkapkan perasaanku.
Dan, pertemuanku yang sepintas waktu itu tak memberikan sinyal apapun pada sensor diri yang tingkat kepekaannya terlalu besar ini. Dia adalah Nuri. Perjumpaan bersamaya sekedar bertamu, berkunjung ke rumah teman yang masih dalam satu lingkup pekerjaan. Karena pekerjaan itulah yang menghantarkaku untuk berkunjung ke rumahnya. Dan Nuri ada disana, ketika aku hanya menghadapkan raut muka sepintas pada tatapan matanya yang bulat dan kembali ku tujukan obrolan dengan si empunya rumah.
Hingga obrolan itu belum berakhir, Nuri sudah terlebih dahulu meninggalkan riuh canda kami. Atau mungkin karena kedatanganku itulah berimbas pada segeranya Nuri untu beranjak pergi. Badan yang cukup, tidak pendek dan tidak pula terlalu tinggi. Wajah yang hanya samar-samar saja aku meihat, tapi terekam seluruhnya.
Hingga perjalanan membawa ku bertemu dengan Nuri. Pertemuan yang cukup menggelikan mengenang telah lalu sepertinya sempat berjumpa, meski hanya selayang pandang.
" Aku Dino", ujarku dengan uluran tangan mengharap jabatnya untuk yang pertama kali.
"Aku Nuri", sembari membalas dengan himpitan kedua telapak tangannya, sebagai tanda untuk menjaga kesucian dari wudhu disaat solat dhuhanya dan atau sebagai tanda kemuhriman kami yang belum satu muhrim.
Wajahnya menarik. Bola matanya tajam, bulat besar dengan segala keantusiasan akan kehidupan yang penuh dengan suatu makna perjalanan. Giginya yang sedikit gingsul menambah manis senyum yang disuguhkannya kepada siapapun yang dia sapa. Banyak senyum yang Ia layangkan. Obrolannya begitu dewasa, namun juga tak canggung untuk menggelar tawa dan berbagi cerita. Cerita perjalaan - perjalanan yang telah dilakukannya.
Ya, dia salah satu perempuan yang terbuka
pada semesta. Mengeksplor segala hal yang ada disekitar dimana ia bekerja.
Mencari tahu tempat - tempat yang sudah banyak direkomendasikan hingga tempat -
tempat yang menarik yang belum banyak orang tahu. Merencanakan perjalanan yang
sangat sering mendadak, melewatinya dan menikmati setiap perjalanan yang
berlalu. Dari salah satu perjalaan itulah aku bertemu dengannya. Dan aku
kembali tak menjumpainya setelah perjalanan itu berakhir.
Malam kembali datang. Semenjak obrolan
kami di sepertiga malam itu yang cukup menarik dan syahdu dengan iringan rintik
- rintik hujan yang enggan untuk menghabiskan isinya dengan seketika. Pelan,
sedikit berbau romantis dan terkesan cukup menyeramkan untuk kondisi waktu yang
telah larut kala itu serta tak ada tanda - tandanya untuk berhenti. Kali ini
kamu yang membuka percakapan.
Demikianlah setidaknya beberapa tanda -
tanda yang ku anggap sebagai sinyal. Tanda yang memberikan ku sedikit
keberanian untuk membicarakan permasalahan yang lebih serius dari obrolan yang
biasa kamu dan aku lakukan. Obrolan yang mungkin akan mengubah perbincangan
kami di hari berikutnya. Bisa juga tak berdampak apapun pada rutinitas yang
biasa kami lakukan setiap hari.
Kamu kini menjadi begitu terbuka. Dengan
kuantitas chat yang lebih banyak dari waktu
sebelumnya. Membuat obrolan - obrolan semakin hidup dan berharap tak melewatkan
sedikitpun hal untuk dibicarakan. Respon menjawabmu pun kini sudah tak lagi
seperti maskapai penerbangan si garuda merah yang terkenal dengan ketelatannya.
Ya, sekarang kamu bak pesawat dengan penerbangan paling pagi. Dimana ketepatan
waktu menjad prioritas sekali dan sangat kecil prosentase keterlambatan untuk penerbangan
pagi. Ketika aku menulis pesan, you're
reading the message. Ketika aku mulai menjawab obrolanmu yang lain, you're writting a message.
Malam kemudian hanya berlalu. Si jago
serasa terlalu dini untuk terjaga membunyikan nada yang mengudara menandakan
waktu subuh sudah dekat. Hal seperti itu berulang di hari - hari berikutnya.
Kamu semakin sering untuk membuka dan memulai percakapan. Memberikan salam di pagi hari.
Melayangkan nasihat akan pekerjaan yang sedang dilakukan hari ini, dan semakin
sering.
Pertemuanku dengan Nuri hanya di hari itu
saja. Sudah lebih dari dua bulan berlalu tak ada tanda - tanda yang akan
mempertemukan ku dengannya kembali. Bukannya aku tak sempat menanyakan dan
meminta kontak pribadinya sehingga aku bisa melanjutkan mendengarkan cerita -
cerita perjalanan yang telah dilaluinya, namun dia belum sempat memberikan atau
mungkin tidak berkenan memberikan kontak pribadinya. Aku juga tidak begitu saja
berhenti untuk melanjutkan pencarian akan informasi pribadinya. Sudah kutemukan
beberapa akun Nuri di media sosial. Kutandai padanya bahwa aku exist. Sekedar itu saja. Ya,
sekedar itu saja.
Dua kali pertemuanku dengan Nuri hanya
terjadi begitu saja. Begitu saja aku mempercayakan pertemuanku kembali
dengannya. Menyerahkan kepada sang waktu untuk pertemuan - pertemuan tak
terencana di masa - masa selanjutnya. Kembali menikmati tawa yang ia hadirkan.
Manis senyumnya dengan gingsul yang menganga di ujung geraham memaksa untuk
membuyarkan segala kepenatan. Mendengarkan ceritanya membawaku menjadi salah
satu tokoh dalam cerita itu. Membawaku kembali percaya pada sang waktu untuk
membelok - belokan alur berlalunya kehidupan yang mengantarkan pertemuan ku
dengan mu kembali./ad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar